Site icon Vocasia

5 Teknik Komunikasi Persuasif, Lawan Bicara Auto Tunduk!

Pesan yang disampaikan oleh komunikator seperti kata-kata, gerak tubuh, intonasi suara dan lain sebagainya harus mampu membuat seorang komunikan percaya dan yakin dengan apa yang Ia dengarkan. Kepercayaan yang berhasil dibentuk oleh komunikator, juga akan mempengaruhi minat dari komunikan untuk berbagi pesan atau informasil. Jika komunikan telah percaya dan semakin percaya dengan komunikator, maka semua informasi yang diinginkan oleh komunikator akan mudah untuk didapatkan.

Pesan yang disampaikan oleh komunikator seperti kata-kata, gerak tubuh, intonasi suara dan lain sebagainya harus mampu membuat seorang komunikan percaya dan yakin dengan apa yang Ia dengarkan. Kepercayaan yang berhasil dibentuk oleh komunikator, juga akan mempengaruhi minat dari komunikan untuk berbagi pesan atau informasil. Jika komunikan telah percaya dan semakin percaya dengan komunikator, maka semua informasi yang diinginkan oleh komunikator akan mudah untuk didapatkan.

1. Tentukan tujuan komunikasi

ilustrasi teknik komunikasi persuasif (pixabay.com)

Teknik yang pertama dan utama bahwa kamu harus menentukan apa sih tujuan dari komunikasi persuasif yang akan kamu lakukan pada si target. Dengan adanya penentuan tujuan ini kamu jadi memiliki arah dan pedoman untuk menemukan strategi komunikasi terbaik dalam mencapai tujuan akhir komunikasi yang persuasif, ya. Kata lainnya nih, penentuan tujuan juga turut menentukan hasil apa yang akan dicapai jika proses komunikasi persuasif sudah terjadi. Misalnya saja hasil yang diinginkan alah agar target komunikasi persuasif itu bersedia menerima suatu paham atau keyakinan darimu, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan yang kamu mau, membeli sebuah barang atau jasa yang sedang kamu tawarkan dan lain sebagainya, nih.

2. Penyampaian pesan yang singkat, padat, dan jelas

ilustrasi teknik komunikasi persuasif (pixabay.com)

Penyampaian pesan darimu yakni sebagai seorang komunikator akan mempengaruhi sikap targetmu yang sebagai komunikan, lho. Jika pesan tersebut disampaikan dengan baik, tidak bertele-tele dan langsung pada point pembicaraan, maka tingkat komunikasi yang persuasif akan lebih mudah tercapai, lho. Yang mana penyampaian pesan yang singkat, padat, dan jelas tersebut berpeluang besar membuat sikap dan perilaku komunikan akan berubah mengikuti kemauan komunikator. Namun, berlaku juga sebaliknya yakni jika penyampaian pesan yang dilakukan oleh seorang komunikator tersebut terkesan bertele-tele, tidak memiliki solusi atau bahkan sampai pada tahap terkesan memaksa si komunikan, maka dapat dipastikan komunikan sebagai pendengar akan menghindar hingga pergi ketakutan dengan alur komunikasimu. Sehingga, sedari awal persiapkan isi pesan yang baik dan benar sesuai dengan tujuan berkomunikasi yang persuasif, ya.

3. Komunikator sebagai pemilik kuasa

ilustrasi teknik komunikasi persuasif (pixabay.com)

Ingat dan tanamkan bahwa kamu sebagai komunikator ialah pemilik kuasa atas jalannya komunikasi dengan komunikan, ya. Mengapa sih demikian? Tentu saja karena kamu memiliki tujuan untuk mempersuasif komunikan atau target komunikasimu. Jadilah penguasa komunikasi layaknya menjadi orang tua yang sedang berkomunikasi dengan anaknya. Berapa besar peluang anak akan menuruti perintah orang tuanya? Tentu saja sangat besar peluangnya apalagi jika disampaikan dengan strategi komunikasi yang baik dan benar. Begitu pula dengan kamu bersama targetmu, dimana kamu harus menjadi penguasa komunikasi dengan menerapkan strategi komunikasi yang persuasif, ya.

Lebih lanjutnya, mungkin kamu bertanya kenapa sih kekuasaan dalam komunikasi itu tak dibuat seimbang saja antara si komunikator dengan komunikannya agar komunikasi tak terkesan adanya paksaan dari penguasaan sepihak? Atau justru memberikan kekuasaan pada komunikan supaya ia tak merasa sedang diperdaya oleh strategi komuniakasi persuasif si komunikator? Hal tersebut masuk akan, akan tetapi tak sepenunya benar, nih. Hal tersebut mengacu pada kepemilikan kekuasaan pada si komunikator ialah sebatas agar komunikasi yang bertujuan persuasif dapat tercapai melalui strategi-strategi khusus, bukan kekuasaan dalam menekan bahkan memaksa komunikan atau target, ya.

4. Berikan keleluasaan komunikan untuk menilai

ilustrasi teknik komunikasi persuasif (pixabay.com)

Poin kali ini melanjutkan pembahasan terkait komunikan yang tak jadi penguasa dalam komunikasi seperti penjelasan di atas, nih.  Yang mana meski si komunikasn atau target ini tak berkuasa dalam komunikasi tetap saja harus memiliki keleluasaan dalam menilai komunikasi persuasif yang dilontarkan oleh si komunikan, ya

Pada saat berkomunikasi, seorang komunikan harus diberi kebebasan sebebasnya untuk melihat baik dan buruknya sebuah pesan yang disampaikan. Jangan memaksa komunikan agar mengikuti perkataan, tapi berusahalah agar dia mengikuti perkataan komunikator atas kesadaran sendirinya sendiri, ya. Hal tersebut karena jika seorang komunikan merasa dirinya tidak bebas atau cenderung dipaksa, kemungkinan besar komunikan tersebut akan berontak dan membantah semua perkataan yang diucapkan atau disampaikan komunikator. Lantas ya akibatnya kamu jadi gagal membuatnya menuruti arah komuniaksi atau tujuan komunikasi yang sedang berjalan. Sehingga, berikan keleluasaan menilai bagi komunikan dengan membuatnya perlahan tapi pasti menyetujui isi pesan yang kamu sampaikan secara persuasif itu, ya!

5. Buat komunikan percaya

ilustrasi teknik komunikasi persuasif (pixabay.com)

Poin terakhir dan juga penting dalam mencapai tujuan komunikasi yang persuasif ialah mencapai kepercayaan si target atau komunikan, nih. Yang mana ada beragam cara agar kepercayaan komunikan bisa kamu dapatkan, ya. Pertama kamu sebagai komunikator harus mencipatkan kesan yang baik saat komunikasi berlangsung bersama si komunikan. Kesan yang baik tersebut merupakan faktor penting dalam keberhasilan sebuah komunikasi persuasif, nih.

Selanjutnya, komunikator yang baik adalah yang mau mendengarkan setiap jawaban dari komunikannya, ya. Hal tersebut karena dengan mendengarkan komunikan, maka komunikator akan mengetahui karakter, keluhan, dan kebutuhan komunikan. Ketika semua hal pada komunikan sudah diketahui, maka untuk memahami komunikan tidak akan menjadi sulit dan komunikator akan mampu mempengaruhi emosi dan alam bawah sadar komunikan tersebut agar bersedia mengikuti apa yang menjadi tujuan komunikasi persuasifmu, nih.

Lebih lanjutnya, menerapkan teknik motivasi menggunakan kompensasi dan insentif atau pemberian kata-kata yang menggugah selera nan semangat komunikan dapat menciptakan seperti rasa butuh hingga hutang budi pada diri komunikan, lho. Yang mana komunikan yang telah mendapatkan banyak motivasi dari komunikator akan merasa berkewajiban untuk menuruti semua perkataannya, nih.

Lalu terkahir, isi pesan dengan mengadung sumber bahasan yang terpercaya akan memberikan kesan bahwa seorang komunikator tersebut memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup. Hal tersebut tentu saja akan membuat seorang komunikan lebih yakin mendengarkan setiap perkataan dari seorang komunikator hingga bersedia melakukan apa yang diinginkan olehmu sebagai komunkator, ya.

Nah, itulah beberapa cara untuk mendapatkan kepercayaan dari target komunikasi atua si komunikan.. Jika komunikan telah percaya dan semakin percaya dengan komunikator, maka semua tujuan awal dari adanya komunikasi yang persuasif akan tercapai dengan semakismal mungkin, lho.

Exit mobile version