Tanggal:21 July 2024
cancel culture

Mengenal Cancel Culture, Budaya Memboikot Orang Lain

Pernahkah kamu mendengar istilah “cancel culture”? Istilah ini pasti sudah tidak asing bagi gen Z. Apabila ditelaah kata per kata, cancel berarti membatalkan dan culture berarti budaya. Apakah cancel culture berarti membatalkan budaya? Tentu saja tidak. Cancel culture tidak dipahami secara sempit dengan mengartikan kata per kata. Cancel culture adalah slang yang populer mulai tahun 2000-an. Publik figur hingga artis ternama seperti Johnny Depp tidak luput dari bayang-bayang cancel culture. Apa sesungguhnya cancel culture tersebut?

Kursus online belajar grammar vocasia

Baca juga: Budaya Yang Baik Seperti Apa? Simak Contoh-Contoh Berikut!

Pengertian Cancel Culture

Ruang publik adalah ranah elit, sehingga ruang tersebut seharusnya diisi dengan konten yang berkualitas dan bermanfaat. Ketika ruang publik terkesan dikotori oleh fenomena atau objek tertentu maka saat itulah cancel culture bekerja. Cancel culture mengacu pada segala tindakan penolakan terhadap tindakan dan kehadiran seseorang. Tindakan ini terjadi berulang kali sehingga menjadi sebuah kebiasaan atau budaya.

Cancel culture adalah budaya menghilangkan pengaruh seseorang dikarenakan perilaku, karya, hingga perkataan yang dianggap tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Menurut Koentjoro, Psikolog sekaligus tenaga pendidik di Universitas Gadjah Mada, bahwa cancel culture sama dengan boikot. Pemboikotan digaungkan beramai-ramai melalui online seperti media sosial maupun offline seperti unjuk rasa. Biasanya korban cancel culture adalah publik figur, sebagaimana mereka berkiprah di ruang publik dan menebar pengaruh serta branding diri kepada khalayak luas.

Baca juga: Culture Shock: Pengertian dan Cara Mengatasinya

Pro-Kontra Cancel Culture

Sejumlah orang menganggap bahwa cancel culture adalah bentuk pertanggungjawaban seseorang atas segala kesalahan atau kekeliruan yang diperbuat. Berani berbuat berani menerima konsekuensi. Diterimanya orang tersebut di ruang publik dianggap melegitimasi perbuatan serupa bukanlah permasalahan yang perlu ditanggapi serius. Namun, terdapat pula orang yang menganggap bahwa cancel culture merupakan pengekangan terhadap kebebasan seseorang.

Dampak cancel culture tidaklah main-main. Seseorang yang terkena cancel culture dilarang untuk tampil di hadapan publik, seperti televisi dan radio. Selain itu, karya-karya mereka akan ditolak oleh masyarakat, diikuti dengan pembatalan kontrak kerja hingga iklan. Cancel culture akan selalu disertai sanksi sosial berupa bullying yang dapat merusak mental seseorang.

Baca juga: Dimensi-dimensi Budaya Organisasi Menurut Para Ahli

Contoh Fenomena Cancel Culture di Indonesia

Siapa sangka cancel culture sudah mulai merasuki jiwa warga net Indonesia lho! Pada tahun 2016, Indonesia digemparkan dengan kasus penyanyi dangdut berinisial SJ yang dilaporkan melakukan pelecehan seksual. Belajar dari sejumlah kasus publik figur lain, seperti terjerat narkoba dan video syur, ternyata mereka mendapat kesempatan aktif kembali di ruang publik. Namun, SJ diperlakukan sebaliknya. Ketika dibebaskan pada tahun 2021, awalnya SJ disambut gembira oleh sejumlah orang bahkan diundang ke salah satu stasiun televisi. Sampai akhirnya, masyarakat menyadari bahwa kebebasannya bukanlah sesuatu yang patut untuk dibanggakan.

Masyarakat beramai-ramai menolak kehadiran SJ di televisi nasional maupun channel YouTube, mulai dari memasang hashtag di media sosial hingga menandatangani petisi. Petisi boikot SJ ditandatangani secara online oleh lebih dari 400 ribu orang. Tidak hanya masyarakat biasa, sejumlah pesohor tanah air juga ikut meramaikan cancel culture ini. Tidak sedikit pula yang memberikan kecaman kepada stasiun televisi atau organisasi yang menyambut SJ pasca pembebasannya.

Manusia dan budaya selalu berjalan berdampingan serta beriringan. Oleh karena itu, keberadaan cancel culture adalah fakta yang tidak bisa dielakkan. Melihat realitas masyarakat Indonesia sudah mulai mengenal dan mempraktikkan cancel culture, menurut kamu, apakah ini kabar yang baik atau buruk?

Baca juga: 3 Teori Komunikasi antar Budaya

Menulis Surat Lamaran - Personal Development
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *