Site icon Vocasia

Akulturasi dan Asimilasi: Perbedaan serta Contohnya

perbedaan akulturasi dan asimilasi

Teknologi membuat dunia menjadi semakin borderless atau tidak ada pembatas yang jelas. Bukan hanya manusia yang dapat bepergian kesana dan kemari, ternyata budaya juga ikut terbawa arus. Hal ini menyebabkan terjadinya percampuran budaya hingga melahirkan budaya baru. Percampuran budaya tergolong fenomena yang terjadi sangat cepat. Oleh karena itu, masyarakat harus selalu bersiap dan mampu beradaptasi dengan budaya baru ataupun percampuran budaya.

Terkadang masyarakat terlalu mengaitkan percampuran budaya dengan konteks yang negatif. Padahal, tidak semua budaya asing membawa dampak buruk terhadap masyarakat. Membahas tentang percampuran budaya, dua istilah ini tentu tidak bisa lepas dari pikiran kita, yaitu: akulturasi dan asimilasi.

Apakah Sobat Vocasia masih bingung dengan kedua istilah tersebut? Eits, jangan sampai kamu bingung berkepanjangan ya! Vocasia akan membahas perbedaan akulturasi dan asimilasi secara jelas dan tuntas. Selamat membaca!

Pengertian Akulturasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), akulturasi merupakan proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat, sebagian menyerap secara selektif atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu. Jadi, akulturasi adalah penyesuain masyarakat terhadap masuknya unsur-unsur kebudayaan baru, di mana budaya baru diterima tetapi tidak menghilangkan unsur-unsur kebudayaan lama.

Proses akulturasi besar dipengaruhi oleh faktor masyarakat yang dapat menerima ataupun menolak percampuran budaya di wilayah mereka. Apabila masyarakat dapat beradaptasi dengan budaya baru, maka akan tercipta pencampuran dua budaya atau lebih sehingga memunculkan budaya baru. Akulturasi bisa terjadi di berbagai macam bidang, misalnya kuliner, gaya berpakaian, sistem kerja, arsitektur bangunan, dan lain-lain. Contoh akulturasi adalah bangunan bernuansa Belanda pada masa penjajahan yang sampai saat ini masih bisa ditemui di sejumlah wilayah Indonesia.

Contoh Akulturasi

Baca juga: Budaya Yang Baik Seperti Apa? Simak Contoh-Contoh Berikut!

Pengertian Asimilasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), asimilasi merupakan penyesuaian (peleburan) sifat asli yang dimiliki dengan sifat lingkungan sekitar. Jadi, asimilasi adalah perubahan budaya yang terjadi karena individu atau masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda hidup di dalam lingkungan yang sama. Pada akhirnya, mereka bisa menggantikan unsur-unsur kebudayaan lama dengan kebudayaaan baru.

Asimilasi disebabkan oleh setidaknya oleh tiga hal berikut.

Contoh Asimilasi

Baca juga: 3 Teori Komunikasi antar Budaya

Perbedaan Akulturasi dan Asimilasi

Perbedaan akulturasi dan asimilasi dapat ditarik dari definisinya. Akulturasi adalah pencampuran budaya tanpa menghilangkan budaya aslinya, sedangkan asimilasi adalah peleburan dua kebudayaan atau lebih sehingga dapat memunculkan budaya yang baru. Pencampuran budaya yang terjadi pada proses akulturasi tidak menghilangkan ciri khas budaya masing-masing. Hal ini tentu berbeda dengan asimilasi, di mana budaya ciri khas budaya masing-masing perlahan-lahan menghilang dari masyarakat dan digantikan dengan budaya baru. Jadi, cara paling mudah untuk mengetahui perbedaan akulturasi dan asimilasi adalah ciri khas budaya asli di masyarakat hilang atau tidak.

Baca juga: Modernisasi? Ini Pengertian dan Dampaknya

Kesimpulan

Jadi, dapat disimpulkan bahwa akulturasi dan asimilasi adalah proses pencampuran antara budaya satu dengan budaya lainnya. Perbedaan akulturasi dan asimilasi dapat diamati dari ada tidaknya ciri khas budaya masing-masing yang hilang di masyarakat. Apabila pencampuran budaya terjadi dengan tidak meninggalkan ciri khas budaya masing-masing, maka disebut dengan akulturasi.

Sementara itu, pencampuran budaya yang mengakibatkan ciri khas budaya masing-masing sudah tidak dapat dipisahkan, maka disebut dengan asimilasi. Keduanya sesungguhnya sangat baik untuk menambah keragaman budaya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa tidak semua budaya baik untuk diterima maupun dihilangkan. Oleh karena itu, pencampuran budaya harus dibarengi dengan kebijaksanaan masyarakat untuk memilih.

Baca juga: Mengenal Cancel Culture, Budaya Memboikot Orang Lain

Exit mobile version