Site icon Vocasia

4 Proses Terjadinya Kesalahan yang Lama-lama Menjadi Kebiasaan, Berubah Yuk!

Jangan merugikan diri sendiri, ya

Rasanya setiap manusia tak pernah luput dari namanya berbuat salah, ya. Oleh karena itu, sebagian besar orang menganggap sebuah kesalahan adalah hal yang wajar dengan takaran atau batasan tertentu. Namun, sayangnya masih banyak orang yang menyepelekan perbuatan salahnya, lho. Pada awalnya sih menganggap kesalahan itu sebagai hal yang lumrah, tapi lama-lama jadi kebiasaan, nih.

Kalau kebiasaan yang ada dihidup kita itu hal yang produktif sih rasanya tak apa, ya. Tapi nih kalau yang jadi kebiasaan ialah dengan berbuat salah auto menjadi kebiasaan buruk yang harus sesegera mungkin untuk dihindari. Simak langsung penjelasan di bawah ini terkait bagaimana sih proses terjadinya kesalahan yang lama-lama jadi kebiasaan supaya kamu bisa memperbaiki diri.

1. Mentoleransi kesalahan kecil

Apakah salah sikap mentoleransi terhadap kesalahan kecil? Jelas tidak salah, sama sekali tidak salah. Namun, ketika toleransi yang diberikan saat berbuat salah itu tak diimbangi dengan bukti bahwa kamu ingin memperbaiki diri rasanya kamu ialah pribadi yang tak tahu diri. Bagaimana tidak jika perbaikan diri untuk menghindari kerugian atau dampak negatif dari sebuah kesalahan pribadi saja tidak mau apalagi untuk kebaikan orang lain? Bisa dibayangkan sendiri, ya.

Baca Juga: Kesalahan saat Kamu sedang Interview

2. Mengulangi kesalahan kecil yang sama

ilustrasi orang berpikir (pexels.com/Nathan Cowley)

Aksi lanjutan dari mentoleransi kesalahan kecil tanpa adanya kemauan atau usaha untuk memperbaiki diri ialah terwujudnya pengulangan lagi, lagi, dan lagi atas kesalahan kecil yang sama. Mengapa demikian? Hal tersebut karena saat menyadari kesalahan yang telah diperbuat, maka auto akan selalu ditoleransi lalu meyakinkan diri bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan kesalahan yag dilakukannya.

Sikap mewajarkan kesalahan ini akan terus terpelihara ketika masih ada kesempatan untuk untuk berbuat salah, tak ada dampak yang dirasakan oleh pelaku atau mungkin dampak terasa kecil yang tak bermakna dalam keberlangsungan hidupnya, hingga dampak yang muncul dari kesalahannya itu bukan menimpa dirinya melainkan orang lain. Pada intinya, ketika masih ada peluang aman untuk melakukan kesalahan kecil yang sama ya akan terus terjadi pengulangan, dimana bagi pelaku ini adalah masalah kecil ya tak ada artinya apa-apa lah untuk dilakukan lagi keesokan harinya.

Kalau sudah terjadi pengulangan kesalahan seperti itu, maka sudah jelas terciptalah sebuah kebiasaan buruk yang terremehkan oleh pelakunya. Mungkin saat ini kamu sebagai pelaku masih meremehkan perbuatan salahmu, tapi percayalah kelak dampak yang kamu anggap kecil atau tak terasa itu akan mengguncang hidupmu, lho. Bukankah istilah menyebutkan bahwa sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit? Maka hal tersebut juga berlaku untuk kebiasaan burukmu dalam mengulangi kesalahan-kesalahan kecil yang sama.

Baca Juga: Cara Menghilangkan Kebiasaan Menunda

3. Meningkatnya level kesalahan

Layaknya sebuah karir yang memiliki jenjang karir, maka sebuah kesalahan juga memiliki jenjang kesalahan. Lantas jenjang seperti apa yang dimaksud? Apakah terjadi penurunan tingkat kesalahan? Rasanya tak mungkin seperti itu karena pelaku sudah terbiasa melakukan kesalahannya setiap hari. Yang mana kalau jenjang karir yang disukai oleh pelaku ialah naik jabatan, maka jenjang kesalahan yang sadar atau tak sadar disukai pula oleh pelakunya ialah saat tingkat kesalahannya bertambah besar.

Dimana ketika kesalahan-kesalahan kecil sudah mengakar jadi kebiasaan bagi pelakunya, ya artinya tidak menutup kemungkinan bahwa level kesalahan akan naik, nih. Misalnya saja nih saat kamu mengambil uang tabunganmu sedikit saja untuk jajan, lalu tergiur untuk mengulanginya bukan? Rasanya iya apalagi berasa tidak ada dampak apa pun yang ada malah kenikmatan bisa punya uang jajan lebih. Hingga pada akhirnya ya terasa enak dan ingin mengambil uang tabungan lagi, lagi, dan lagi dengan nominal yang lebih besar lagi supaya bisa jajan dengan lebih leluasa. Apakah benar tidak ada dampaknya? Iya benar tidak ada, tapi tak ada itu berlaku untuk saat ini. Lantas bagaimana kabar tujuan awalmu untuk menabung itu? Sampai kapan baru kamu bisa mewujudkan mimpimu dari tabungan yang kamu usahakan? Jangan sampai kamu terlambat untuk menyadarinya, ya.

4. Merasakan nikmatnya kebiasaan berbuat salah

ilustrasi orang berpikir (pexels.com/Engin Akyurt)

Nah, inilah tahapan kompleks dari terciptanya kebiasaan untuk memelihara kesalahan-kesalahan, baik pada level kecil hingga besar. Dimana sebagai lanjutan dari penjelasan poin di atas bahwa berbuat kesalahan itu nikmat, apa benar seperti itu? Ya, itu namanya kenikmatan atau kebahagian semu. Seperti contoh di penjelasan sebelumnya, saat kamu mengambil uang tabunganmu untuk bersenang-senang yang pada awalnya hanya untuk jajan satu barang, dua barang, tiga barang, hingga tak terasa telah terbeli semua barang-barang yang tak dibutuhkan.

Dari situ bahagia bukan dengan menikmati uang tabungan bisa membeli ini dan itu semua yang jadi lapar matamu? Iya pastinya, lantas apa senyatanya berbuat salah itu benar-benar nikmat? Jelas tidak. Hal tersebut karena yang nyata ya dampak yang ada di depanmu, yang mana dampak itu semakin lama makin dekat, kompleks, dan siap menerkam kehidupanmu. Iya kerugian itu tidak hadir sekarang tapi pasti datang dan rasanya kamu pasti memahaminya jika dengan rasional mencerna kesalahan yang telah kamu lakukan saat ini.

Kini sudah saatnya kamu melawan dirimu untuk segera memperbaiki diri dengan meningkatkan kualitas dirimu dan berhenti melakukan berbagai kesalahan yang kamu lakukan saat ini. Coba deh tingkatkan kualitas dirimu dengan mengikuti berbagai kursus di Vocasia dengan ahlinya langsung, lho. Langsung aja deh simak informasi lebih lengkapnya melalui link di bawah ini :

Educational Community Platform | Vocasia

Exit mobile version