Tanggal:23 July 2024

Tips Mempersiapkan Biaya Persalinan Saat Istri Sedang Hamil!

Bagi sebagian besar pasangan, memiliki momongan tentulah suatu keinginan yang cukup dinanti-nantikan. Pada saat momen seperti ini, tentu pasangan akan merencanakan secara detail tentang apa yang harus mereka siapkan dalam menyambut lahirnya sang jabang bayi. Persiapan ini tidak hanya secara mental saja, namun juga ada beberapa perlengkapan yang harus disiapkan apalagi di saat proses persalinan. Misalnya, biaya jasa dokter kandungan, biaya kamar, dan perawatan bayi pasca lahir, juga jika persalinan dilakukan dengan cara operasi bedah biayanya pun lebih besar.

Di momen ini, pasangan bisa mengira-ngira besaran biaya yang harus dikeluarkan sebagai persiapan persalinan sang istri. Berikut beberapa tips dan trik dalam menyiapkan biaya lahiran anak tercinta. 

1. Mempersiapkan biaya sejak istri dinyatakan hamil

Persiapan persalinan sejak dini (Sumber: Pexels)

Menyiapkan biaya persalinan bukanlah hal yang sepele atau bisa dikumpulkan dalam waktu yang singkat. Menyiapkan biaya untuk persalinan bisa dilakukan sejak istri dinyatakan positif hamil. Karena dengan mempersiapkan sejak dini maka pasangan memiliki waktu yang lebih panjang, yaitu sembilan bulan untuk mengumpulkan biaya persalinan.  Biaya persalinan ini juga  bisa dibagi menjadi tiga momen, yaitu:

Pra persalinan

Biaya ini meliputi biaya kontrol kandungan rutin, biaya USG, pembelian obat, segala keperluan untuk senam hamil,  dan juga baby shower. Belum lagi jika pasangan tersebut menganut adat istiadat yang masih berlaku dalam suatu keluarga, karena itu biasanya di saat sang istri hamil beberapa bulan maka dilakukan acara syukuran.

Baca juga: Baby Shower: Persiapan dan Susunan Acara

Saat persalinan

Anggaran yang termasuk dalam biaya persalinan, yaitu biaya tindakan dokter, pembelian obat, infus, reservasi kamar rumah sakit, serta perawatan ibu dan bayi selama di rumah sakit. Saat ini keperluan bayi hendaknya juga telah dipersiapkan, yaitu baju bayi, perlengkapan mandi, bedak, minyak, popok bayi, dll. Meskipun perlengkapan bayi ini terlihat sedikit,  namun jenis perlengkapan yang beragam ini secara tidak langsung juga menguras biaya yang tidak sedikit. 

Pasca persalinan

Biaya yang diperlukan pada saat setelah persalinan merupakan biaya yang cukup banyak karena bersifat jangka panjang. Contoh biaya yang dikeluarkan pasca persalinan, seperti biaya imunisasi bayi, syukuran bayi baru lahir, juga jika ada upacara adat yang yang harus dilakukan setelah bayi lahir.

Usahakan mengumpulkan biaya ini semaksimal mungkin untuk berjaga-jaga jika ada kemungkinan buruk terjadi selama masa kehamilan atau persalinan. Hal ini juga perlu dilakukan sedini mungkin untuk menghindari berhutang.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Baby Blues, Gangguan Ibu Pasca Melahirkan 

2. Menyiapkan dana darurat dan berhemat 

Pentingnya dana darurat (Sumber: Pexels)

Selain tabungan yang telah dikumpulkan selama sembilan bulan, jika tempat kerja pasangan tidak memberikan tunjangan kelahiran yang memadai maka pasangan harus lebih ekstra untuk menyiapkan dana darurat. Pasangan harus memiliki dana darurat yang dapat digunakan untuk mengantisipasi terjadinya kemungkinan terburuk atau kejadian yang tidak diinginkan. 

Kejadian ini misalnya, rencana lahiran yang awalnya sudah disusun secara normal tiba-tiba di saat mendekati waktu bersalin ternyata terdapat gangguan pada kehamilan yang mengharuskan sang ibu untuk melakukan persalinan secara sesar. 

Selain pada waktu persalinan dana darurat ini juga berguna pada saat sang istri masih berada di masa kehamilan,  misalnya pada masa kehamilan sang istri mengalami pendarahan atau mengeluhkan sesuatu yang membutuhkan tindakan dokter, dana ini bisa berguna untuk membayarnya. 

Jikalau memang dana darurat ini tidak dibutuhkan pada masa kehamilan maupun persalinan, pasangan bisa menyimpan dana ini untuk kebutuhan tak terduga selanjutnya pasca kelahiran. Misalnya, ketika si kecil berobat ke dokter, untuk membeli susu, ataupun keadaan tak terduga lainnya yang bersifat mendesak. Pada intinya, dana darurat ini sebaiknya disisihkan untuk keadaan darurat saja. Jika memang sisa, dana ini bisa digunakan sebagai uang cadangan agar saat mengalami kejadian buruk selanjutnya, tidak perlu khawatir mencari biaya. 

Baca juga: 10 Manfaat Menabung Untuk Masa Depan Yang Baik

3. Memanfaatkan fasilitas asuransi 

Memanfaatkan asuransi (Sumber: Pexels)

Jika pasangan merupakan seorang pegawai kantoran atau bekerja, biasanya akan mendapatkan fasilitas berupa asuransi kesehatan. Pihak perusahaan biasanya memberikan fasilitas berupa persyaratan kelas ruang rawat inap dan batas biaya yang dapat digunakan. Jika ingin menggunakan kelas rawat inap yang lebih tinggi, harus mengeluarkan biaya tambahan, seperti selisih biaya kamar, biaya persalinan, dan juga biaya dokter.

Sebaiknya fasilitas ini digunakan dengan baik dan melakukan cek terlebih dahulu, apakah terdapat asuransi kesehatan untuk kelahiran anak dan besaran tunjangan tersebut. Jika memang perusahaan tempat bekerja memberikan tunjangan biaya persalinan sebesar 100%, pasangan tersebut bisa bernafas lega. 

Namun, jika tunjangan tidak ditanggung oleh perusahaan sepenuhnya, harus menyiapkan biaya sendiri. Apabila biaya persalinan yang melebihi jatah tunjangan yang disediakan oleh kantor. Kemudian jangan lupa untuk cek kembali jika kedua pasangan ini bekerja, apakah kedua tunjangan dari kantor ini mampu menutup biaya persalinan atau tidak.

Selain memanfaatkan fasilitas asuransi dari kantor, pasangan juga bisa memanfaatkan fasilitas asuransi kesehatan yang disediakan pemerintah, yaitu BPJS. Jika memang pasangan berniat untuk menggunakan asuransi ini, sebaiknya dipersiapkan dari jauh-jauh hari karena prosesnya memakan waktu yang cukup lama dan kurang praktis. 

Prosesnya, yaitu harus berobat terlebih dahulu ke fasilitas kesehatan tingkat 1, seperti Puskesmas atau klinik tertentu. Setelah itu, jika ada kendala medis yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, akan dirujuk ke rumah sakit dengan tipe terendah terlebih dahulu, seperti RSUD. Apabila di tingkat RSUD tidak sanggup menangani pasien, kemudian dirujuk lagi ke tipe rumah sakit yang lebih tinggi.

Pasangan bisa menggunakan dua pilihan asuransi tersebut atau juga memang sudah berniat mengurus asuransi mandiri di lembaga tertentu. 

Baca juga: Asuransi: Pengertian, Fungsi, Jenis, Dan Contohnya

4. Membuat rencana pengeluaran sesuai skala prioritas 

Membuat skala prioritas (Sumber: Pexels)

Membuat rencana pengeluaran ini bisa dilakukan dengan cara membuat estimasi biaya persalinan yang perlu disusun secara detail. Karena semakin detail rancangan anggaran, semakin sedikit pula kemungkinan mengeluarkan biaya tambahan diluar rencana.

Selain itu, menyusun berbagai kemungkinan proses persalinan juga akan memudahkan pasangan untuk membuat rencana biaya. Proses persalinan sendiri terbagi menjadi dua, yaitu persalinan normal dan persalinan secara sesar. Kedua proses persalinan ini tentunya membutuhkan biaya yang berbeda dan cukup signifikan. Apalagi jika saat operasi, terdapat komplikasi atau masalah yang membuat bayi harus dirawat secara intensif atau neonatal intensive care unit (NICU), setelah kelahiran yang akan membutuhkan biaya yang lebih mahal. Untuk mengetahui besaran biaya tersebut, pasangan bisa berkonsultasi dengan rumah sakit atau dokter kandungan yang dijadikan rujukan untuk kontrol kehamilan secara rutin.

Selain kemungkinan dalam proses persalinan,  ada hal lain yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan persalinan, seperti jenis kelas kamar, pendampingan suami saat proses persalinan, tindakan induksi atau suntik epidural, atau ketika sang ibu ingin melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), dll.

Baca juga: 8 Cara Efektif Menabung Untuk Menikah Hemat, Bahagia, Dan Anti-Boncos!

5. Memberikan ASI eksklusif 

Pemberian ASI eksklusif (Sumber: Pexels)

Tips terakhir untuk mempersiapkan biaya persalinan adalah memberikan ASI (Air Susu Ibu) secara eksklusif kepada sang bayi. Tentu dengan memberikan ASI eksklusif ini akan menghemat biaya pasca persalinan.

Selain dari sisi penghematan finansial, pemberian ASI eksklusif hingga usia 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun merupakan hal yang sangat disarankan oleh ahli kesehatan. Hal ini karena ASI eksklusif merupakan asupan terbaik yang mengandung berbagai gizi dan sangat bermanfaat bagi perkembangan otak dan fisik bayi.

Pemberian ASI eksklusif dari sang ibu, juga merupakan salah satu anugerah dari Tuhan karena tidak setiap Ibu memiliki stok ASI yang cukup untuk bayi. Bahkan terkadang, ada ibu yang ASInya tidak keluar sama sekali sejak melahirkan sehingga bayi harus mengonsumsi susu formula sejak dini untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Dengan lancarnya asupan ASI eksklusif ini juga dapat mendorong orangtua untuk menekan biaya pasca melahirkan karena jika sang Ibu tidak bisa memberikan ASI eksklusif maka pasangan harus menyiapkan biaya tambahan untuk membeli susu formula yang harganya mencapai kisaran Rp500.000 per bulan.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *