Tanggal:26 February 2024

Hindari Logical Fallacy dalam Berargumen! Inilah Penjelasan dan Jenisnya

Pernahkah kamu mendengar istilah logical fallacy? Kalau kamu aktif di media sosial pasti sudah tidak asing dengan istilah yang satu ini. Istilah ini biasanya digunakan saat seseorang menyampaikan argumen yang tidak valid, kemudian orang lain akan membalas, “Ah, logical fallacy. Do some research, please!”.

Kursus online IELTS Vocasia

Nah, sebenarnya apa itu logical fallacy? Mengapa kita harus menghindari ini saat menyampaikan argumen? Yuk, simak artikel ini sampai akhir!

Apa itu logical fallacy?

Dari segi bahasa, kata fallacy berasal dari Bahasa Latin, fallacia yang berarti deception atau dalam bahasa Indonesia berarti tipu muslihat. Sederhananya, logical fallacy adalah kecacatan logika berfikir seseorang dalam menyusun argumentasi. Biasanya bertujuan untuk menipu lawannya agar satu pendapat dengannya.

Tanpa disadari mungkin kamu pernah terjebak tipu muslihat seseorang yang menerapkan logical fallacy atau sesat pikir baik di dunia kerja, bisnis, ataupun di kehidupan sehari-hari. Penting buat kamu membekali pengetahuan mengenai sesat pikir agar kamu bisa berfikir secara logis dan terhindar dari tipu muslihat. Jangan telan mentah-mentah setiap argumen yang dilontarkan orang lain, ya!

Baca juga: Begini 8 Cara Melatih Diri Berpikir Kritis, Cobalah Perlahan

Jenis-jenis logical fallacy

Nah, berikut adalah jenis logical fallacy yang kerap dijumpai di kehidupan masyarakat:

  • Strawman

Strawman adalah suatu keadaan di mana dua pihak sedang berbicara, namun pihak lain menyimpulkan atau mengasumsikan argumen tanpa meminta klarifikasi terlebih dahulu.

Biasanya lawan akan menggunakan argumen yang sepenuhnya tidak berkaitan. Contohnya saat kamu ingin keluar dari Whatsapp group dengan alasan memori hp penuh dan kamu jarang membuka grup itu. Nah, saat kamu berpamitan, justru orang lain langsung berasumsi sendiri “Kalau ada masalah sama kita ngomong dong!”

Padahal kan seharusnya mereka meminta klarifikasi dan mendiskusikannya dengan kamu dulu, bukan langsung menyimpulkan sesuatu secara sepihak.

  • Circular reasoning

Pernah gak sih kamu mendengarkan argumen seseorang yang terus berputar-putar tanpa ada bukti yang kuat? Kalau pernah, mungkin orang tersebut sedang menerapkan sesat pikir jenis circular reasoning.

Contoh, seseorang menganggap kuliah itu sia-sia karena ujung-ujungnya jadi pengangguran. Pernyataan ini memang sekilas logis karena beberapa kali kita kerap menjumpai sarjana pengangguran.

Namun, pernyataan ini jelas mengandung kecacatan logika, lho. Fakta banyaknya sarjana pengangguran tidak secara langsung membuat proses kuliah yang mereka jalani sia-sia, apalagi proses kuliah tidak hanya berorientasi untuk bekerja.

Baca juga: 9 Metode Jajak Pendapat dalam Opini Publik

  • Ad Hominem

Ad hominem adalah jenis sesat pikir di mana orang lain menyerang pribadi orang yang melontarkan argumen. Alih-alih membalasnya dengan logis, pelaku sad hominem ini malah menyerang sesuatu yang tidak berkaitan dengan topik yang dibahas.

Contohnya, kalau kamu aktif Twitter pasti sudah sering membaca opini semacam ini, “Ah, lo ngomong gitu karena ber-privilege! Pendapat lo gak bakal valid selama lo bukan dari orang miskin struktural!”

Pendapat tersebut sekilas terdengar logis, padahal itu salah satu sesat pikir dalam berargumen, lho. Kita tidak bisa mendiskreditkan argumen seseorang dengan menyerang kondisi personalnya langsung, seperti bentuk tubuh, keadaan finansial, dan lain sebagainya.

  • False dilemma

Selanjutnya, sesat pikir false dilemma adalah saat seseorang mengaitkan dua pilihan yang salah. Contohnya adalah saat perempuan membahas mengenai kerja keras dari nol, kemudian ada orang merespon, “Ah lo kalo gak lahir dari orang tua kaya ya nikah sama cowok kaya!”. Pendapat si perespon sesat karena secara tidak langsung mereka mengasumsikan bahwa perempuan tidak bisa sukses sendiri dari nol dan harus dibantu orang lain.

Baca juga: 9 Metode Jajak Pendapat dalam Opini Publik

  • Appeal to popularity

Melibatkan sebagian besar opini masyarakat atau appeal to popularity adalah salah satu jenis sesat pikir. Hanya karena opini tersebut dipercaya oleh sebagian besar orang, bukan berarti secara otomatis menjadi hal yang logis dan benar.

Contohnya adalah saat seseorang melanggar rambu-rambu lalu lintas, kemudian saat kena tilang mereka akan berdalih, “Mereka juga tidak mengenakan helm! Kenapa saya tidak boleh, Pak?”

Padahal dari awal sudah tahu bahwa mengenakan helm saat berkendara hukumnya wajib, tidak bisa ditawar. Namun karena menyimpulkan sesuatu hanya karena diamini banyak orang, logika tersebut tentu menjadi sesat.

  • Gambler’s fallacy

Sesat pikir gambler’s fallacy terjadi ketika seseorang memiliki pola pikir yang mempercayai akan sesuatu berjangka pendek pasti akan terjadi lagi secara alami. Contohnya, “Anak sulung Bu X ranking 1 terus. Pasti anak selanjutnya bakal ranking 1 terus!”. Opini tersebut jelas cacat secara logika karena menyimpulkan sesuatu yang belum terjadi dan anak Bu X yang lainnya tidak pasti ranking 1 di kemudian hari.

Baca juga: Pengertian Komunikasi Massa Menurut Para Ahli

  • Slippery slope

Slippery slope ini terjadi ketika seseorang mengaitkan hubungan sebab-akibat yang salah. Contoh, semisal kamu kena tilang karena tidak mengenakan helm saat berkendara. Kemudian kamu mengolok-olok petugas, “Lah, itu banyak yang gak pake helm. Kenapa cuman saya yang ditilang? Gak adil banget!”

Pendapat tersebut tentu salah karena mustahil petugas menangkap semua pelanggar lalu lintas satu-persatu. Mereka bukanlah superhero, melainkan manusia yang hanya mempunyai dua tangan.

Itu dia beberapa jenis logical fallacy yang penting untuk diketahui. Sebagai seorang terpelajar sebaiknya kamu belajar memakai logika dengan bijak sejak dini, pasalnya fenomena ini seringkali terjadi di kehidupan sehari-hari dan dilontarkan dengan kalimat sehalus mungkin hingga tak seorangpun menyadarinya. Jadi, dengan menempatkan logika dengan benar, kamu dapat terhindar dari praktik sesat pikir yang dilakukan oleh orang lain dan dapat berfikir dengan jernih.

Terus tanamkan critical thinking dalam dirimu, ya!

Baca juga: 8 Contoh Teknik Komunikasi Persuasif dalam Kehidupan Sehari-hari

banner Kursus Online Bisnis Growth Hacking di Vocasia
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *