Tanggal:22 July 2024

6 Tips Penerapan Cross Selling dan Up Selling yang Lebih Maksimal

ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)

1. Sediakan Harga yang Rasional

ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)
ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)

Bayangkan saja bahwa kamu adalah seorang pembeli baju lalu ketika kamu hendak membeli baju yang kamu taksir lewat toko online, penjualnya menawarkan case celana yang senada dengan bajumu, nih. Awalnya sih kamu setuju karena keduanya nampak matching, tapi setelah melihat harga yang ditawarkan dan menurutmu itu tidak sesuai dengan nilai barangnya, tentu kamu akan berpikir dua kali untuk membelinya, bukan? Iya pastinya, nih.

Atas dasar itu, pemilihan harga yang rasional adalah salah satu prinsip penting yang perlu kamu pegang ketika menerapkan sistem cross selling, ya. Yang mana kamu harus memastikan bahwa barang pelengkap yang kamu tawarkan atas barang pokok yang diingikan oleh konsumen haruslah memiliki harga yang sesuai dengan nilainya. Dimana walaupun sifatnya “pelengkap”, konsumen akan tetap mempertimbangkan harganya, lho.

Jangan sampai deh konsumen membeli barang yang “tidak lengkap” dengan alasan harga barang pelengkapnya mahal. Ini akan memberi kesan negatif bagi konsumen untuk berbelanja kembali ke lapakmu, lho. Bahkan secara rasional, kamu yang harusnya dapat keuntungan lebih karena konsumenmu tak hanya membeli produk pokok tapi juga ada tambahan membeli produk pelengkapnya jadinya gagal untuk, lho.

Ini pun berlaku bagi up selling, yang mana usahakan produk premium yang kamu tawarkan itu memang jelas memiliki nilai dan manfaat yang lebih banyak dibanding produk yang lebih murah, ya. Usahakan untuk selalu transparan saat menampilkan fitur dan harganya agar konsumen bisa bebas menilai dan menganggap positif branding lapakmu.

2. Hindari Penawaran yang Tidak Relevan

ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)
ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)

Mungkin saat ada produkmu yang tak laku, maka kamu akan segera menawarkan produk tersebut dengan semaksimal mungkin sebelum makin tertinggal dan nilai produk turun drastis, ya. Atas dasar hal itu, lantas apakah menawarkan produk tersebut di semua halaman produk adalah langkah yang tepat? Tentu saja tidak, nih. Apalagi jika produk tersebut ditawarkan di halaman produk yang jelas tidak ada hubungannya sama sekali, yang ada hanya sia-sia.

Coba bayangkan deh jika konsumen ditawarkan produk yang tidak relevan, apakah mereka akan tertarik? Kalaupun ya, kemungkinannya akan sangat kecil. Lain halnya jika produk tambahan yang ditawarkan masih ada hubungannya dengan produk yang akan mereka beli. Oleh karena itu, pastikan setiap penawaran yang kamu lakukan sesuai dengan tempatnya, ya. Sehingga, produk tambahan yang kamu tawarkan itu memang dibutuhkan oleh konsumen yang otomatis memperbesar peluang untuk dilakukan pembelian.

3. Tes Kombinasi Produk

ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)
ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)

Apakah kamu masih belum yakin dengan kombinasi produk yang kamu tawarkan? Lalu bagaimana sih cara untuk mengetes potensi kombinasi produk yang kamu tentukan? Dalam hal ini, coba deh aplikasikan pencocokan berbagai jenis model untuk menemukan yang paling pas perpaduannya. Ini adalah metode untuk mengetahui opsi terbaik dari berbagai pilihan kombinasi produk yang ada, ya.

Dengan praktik seperti di atas, maka kamu bisa membuat beberapa kombinasi produk terlebih dahulu, ya. Lalu setiap kombinasi produk harus kamu analisis akan performanya (berdasarkan yang paling menarik dari sisi konsumen) hingga kamu mendapatkan yang kombinasi yang terbaik untuk dijadikan prioritas pasangan produk.

4. Beri Alasan yang Kuat Untuk Membeli

ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)
ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)

Di saat kamu memberikan penawaran (baik cross selling maupun up selling), ada kemungkinan konsumen masih ragu, nih. Ya, wajar saja sih konsumen mana sih yang mau rugi? Pastinya mau mendapatkan produk yang berkualitas tinggi sesuai dengan keinginannya atau kesukaannya tapi dengan harga yang bersahabat bukan? Iya pastinya, coba deh posisikan dirimu sebagai seorang kosumen untuk bisa menemukan strategi terbaik dalam mengurangi keraguan senyatanya seorang konsumen yang hendak berbelanja pada lapak yang menerapkan sistem cross selling ataupun up selling.

5. Tawarkan Bonus

ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)
ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)

Agar konsumen semakin tertarik untuk membeli, maka kamu bisa menawarkan bonus tambahan, nih. Bonus yang diberikan bisa dalam bentuk bermacam-macam, mulai dari diskon hingga gratis ongkir.  Salah satu contoh penerapannya bisa dengan strategi membeli paket yang lebih premium, maka konsumen bisa mendapat gratis ongkir. Bahkan jangan ragu untuk memberikan diskon tapi beri batasan waktu agar konsumen tak punya banyak waktu yang disertai dengan takut menyia-nyiakan kesempatan dikson produk yang ia inginkan. Sehingga besar kemungkinan ia akan segera membeli produkmu, ya. Eitss, tapi diskonnya harus diperhitungan secara rasional terlebih dahulu, ya. Jangan sampai produkmu laku keras tapi kamunya malah rugi!

6. Berikan Perbandingan

ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)
ilustrasi cross seeling dan up selling (pixabay.com)

Tips ini pada umumnya sering digunakan pada produk-produk up selling, nih. Dimana kamu harus memberi perbandingan antara produk dasar dengan yang produk premium. Mengapa demikian? Tentu saja untuk memperkuat alasan mengapa kosumen harus lebih memilih pembelian produk yang premium dibandingkan yang dasar.

Variabel yang dibandingkan bisa dalam bentuk fitur, harga, atau fasilitas tambahan yang tak didapatkan dari produk yang dasar. Apapun itu, lagi-lagi posisikan dirimu sebagai konsumen agar dapat merasakan apakah perbandingan yang ada itu terasa nyata secara value atau malah terkesan dibuat-buat, lalu pastikan perbedaan di setiap paket tersampaikan dengan jelas, ya

Kursus digital marketing
pelatihan mengelola peran dan tanggung jawab pekerjaan vocasia
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *